Jangan Remehkan Sinetron

“Aku mencintaimu…” sayup-sayup Om Bodong mendengar suara melankolis nan syahdu dari seorang artis yang dijuluki ratu sinetron, Nikita Willy, yang memang sedang main sinetron dan bukan main. Om mendengar suara itu dari kamar Om Bodong yang lumayan dekat dengan ruang televisi tempat Ibu melihat sinetron kesayangannya diputar. Dan itu, benar-benar sangat mengganggu Om Bodong!

Kenapa sih acara menjijikkan seperti itu ditonton? Kenapa sih acara yang bikinnya aja tidak niat itu harus terus bertahan dan laku dijual di Indonesia? Kalau diumpamakan, sinetron Indonesia itu bagaikan knalpot neyeng (karatan) yang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, namun masih saja laku dijual. Bener-bener bikin Om Bodong sebel!

Om Bodong yakin, pasti masdab dan mbakyu sekalian juga merasakan hal yang sama, iya kan? Hayo ngaku, gag usah malu deh sama Om! Haha! Memang, sebagian besar anak muda Indonesia pasti merasa jijik terhadap sinetron. Udah ceritanya terkesan asal jadi dan nyambung, kadang juga njiplak, eh, pengambilan gambarnya terlihat kacangan lagi, aduh!! Benar-benar merusak mata!

Namun, ternyata, tidak semudah itu juga kita bisa menjudge sinetron itu adalah produk menjijikkan bangsa Indonesia. Mari kita lihat dari kacamata Om Bodong, sebuah pandangan yang mencoba melihat dari dua sisi, hehe.

Sekarang mari masdab dan mbakyu sekalian cermati, jika kita melihat sinetron, kita pasti akan melihatnya sebagai sebuah rekaman yang terburu-buru dan asal jadi. Cerita kadang dibuat waton (asal) nyambung aja, gambar kadang diambil waton enthuk (asal dapat) aja, dan tentunya itu membuat sinetron terlhat sangat amatir!

Namun di sisi lain, ternyata proses pembuatan sinetron itu tidaklah semenjijikkan seperti yang kita kira. Bayangkan, jika kita menjadi awak sinetron, kita harus terus ngebut mengambil gambar dengan dialog yang terus dibuat dan perencanaannya pun sesuai kemauan produser. Jika ternyata laku, maka episode akan diperpanjang, sehingga kadang sutradara dan penulis skenario pun tidak tahu nanti ceritanya berakhir seperti apa. Artinya, mereka harus terus memakai kreatifitas otaknya! Dan seperti yang kita tahu, kreatifitas tidak dapat selalu hadir setiap saat! Ada kalanya kreatifitas mengalir dengan gampangnya waktu kita boker, namun ada juga masanya di mana kreatifitas mampet seperti saluran WC bahkan walaupun kita sudah semedi sampai 20 hari 3 malam (nginepnya Cuma pas malem minggu, jadi Cuma 3 malam, hehe). Bisa masdab dan mbakyu bayangkan betapa sulitnya itu? Jika tidak bisa juga tidak apa-apa, Om Bodong tidak memaksa, hehe.

Itu masih pada masalah ide, lalu bagaimana dengan eksekusi? Wow, ternyata sama saja sulitnya! Om Bodong ingat, pernah mencoba syuting iklan sekitar 3 menit, yup, Cuma 3 menit. Tapi masdab dan mbakyu sekalian tahu berapa waktu yang dibutuhkan?? 4 Jam! Ya, mungkin alasan utamanya karena Om Bodong dan kawan-kawan belum profesional sih. Tapi tetap saja, pada dasarnya syuting itu susah-susah gampang. Karena itulah, sinetron yang selalu bisa melakukan tugas kejar tayang tetaplah pantas mendapat apresiasi dari kita semua.

Bagi Om, mengkritik itu mudah. Apalagi mengkritik yang sifatnya Cuma melu-melu (ikut-ikutan) saja. Semua orang bisa melakukannya. Tapi pertanyaannya, bisakah orang yang menjelek-jelekkan dan mengkritik karya yang sudah tercipta itu menghasilkan karya yang lebih baik lagi? Yap, bagi Om Bodong, menandingi karya orang lain yang menurut kita jelek jauh lebih gagah dibanding Cuma mengatakan bahwa karya orang lain itu jelek. Karena itu, marilah kita saling berlomba untuk menghasilkan karya yang ciamik, bombastis, dan fantastis!!

Karena sudah ngomong gitu, sekarang Om Bodong mau berusaha bikin karya lagi ah. Tapi inget ya masdab dan mbakyu, jangan plagiat alias menicontek, hihi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s