LDF (Long Distance Fanatism)

Priit!! Priit!! Priittttt!!! Peluit panjang tanda pertandingan berakhir telah dibunyikan. Artinya, Barcelona resmi menjadi juara liga champion musim 2010-2011. Mereka memenangi gelar keempat liga champion ini setelah mengalahkan Manchester United dengan skor yang lumayan telak, 3-1.

Om Bodong sendiri merasakan dua hal gara-gara kejadian ini. Yang pertama, Om Bodong senang. Karena Om Bodong dapat berteriak bangga di hadapan teman-teman Om Bodong yang menjagokan Manchester United. Soalnya, Om Bodong bilang sama mereka kalau Om Bodong lebih menjagokan Bercelona dibanding tim kebanggaan mereka itu. Lalu perasaan Om Bodong yang kedua adalah sedih, karena itu artinya Om Bodong akan diejek habis-habisan oleh teman-teman Om Bodong yang menjagokan Barcelona. Alasannya gag jauh beda sama yang pertama, Om Bodong bilang sama teman Om Bodong kalau Manchester United yang bakalan menang di laga penuh gengsi ini. Lah, kok bisa gitu? Kok Om Bodong jagonya gag jelas gitu? Sebenarnya siapa yang benar-benar dijagokan oleh Om Bodong??

Sejujurnya, Om Bodong memang tidak menjagokan siapapun di partai ini, karena Om Bodong sama-sama gag suka sama kedua tim yang tampil. Alhasil, bagi Om Bodong, partai final ini sama sekali tidak menarik dan tidak mengharuskan Om Bodong memilih dengan tegas siapa tim yang akan Om Bodong jagokan.

Lalu bagaimana dengan masdab dan mbakyu sekalian? Siapa tim dijagokan? Om Bodong yakin, pasti semua memiliki pilihan dan alasannya masing-masing. Ada yang karena Messi mainnya bagus lah, atau karena Ferguson mirip bapaknya lah, atau karena wajah Park Ji Sung mirip sama pacarnya. Well, apapun alasan masdab dan mbakyu sekalian, sama sekali tidak ada otoritas yang bisa menyalahkan ataupun membenarkannya. Itu adalah hak masing-masing orang.

Namun yang menjadi sorotan Om Bodong kali ini adalah, mengapa fanatisme masyarakat Indonesia bisa begitu besar, padahal tim yang mereka jagokan berada jauh di luar sana. Dan bahkan mungkin tidak satupun official dari tim tersebut kenal dengan kita. Namu mengapa, kecintaan beberapa masyarakat Indonesia terhadap sebuah tim bisa begitu besar.

Mau contoh besarnya cinta masyarakat Indonesia terhadap tim kesayangannya yang berada di lua rnegeri? Coba simak beberapa cerita dari Om Bodong ini.

Yang pertama, Om Bodong memiliki teman yang ikut di fans club sebuah klub sepakbola terkenal. Lalu komunitas itu mengadakan nonton bareng dengan komunitas lain yang mencintai klub lain yang ternyata masih satu kabupaten dengan klub yang diidolakan oleh teman saya. Istilah kerennya sih rival. Nah, kebetulan waktu itu da derby. Dan dua komunitas beda usia, eh idola, berkumpul dalam satu ruangan. Dan masdab dan mbakyu sekalian tahu apa yang terjadi di sana? Atmosfir memanas! Jika masdab dan mbakyu sekalian mengira karena Acnya mati, itu salah besar! Soalnya sejak awal memang sudah tidak ada Acnya, melainkan memakai AC alami, hehe. Tapi jika ada yang mengira karena ada wanita yang melepas baju, juga salah, kebetulan yang nonton di sana cowok semua. (eits, ini bukan pecinta klub homo loh, mereka masih normal kok!). Jadi apa yang membuat situasi memanas? Ternyata tidak lain dan tidak bukan dan tidak jangan adalah karena situasi pertandingan di stadion yang berada jauh di sana juga memanas. Bahkan, konon menurut legenda, acara nonton bareng itu berakhir dengan tawuran! Hanya karena nonton bola yang bahkan timnya berada jauh di luar negeri sana!! Bayangpun?

Memang aneh sih. Tapi apa mau dikata, memang begitulah cinta. (wo, pembicaraan mulai mengarah ke arah ‘galau’ neh) Bahkan Om Bodong memiliki pengalaman prbadi tentang itu. Om Bodong pernah bolos sekolah gara takut diejek atas kekalahan tim kesayangan Om Bodong! Sebenarnya hal itu cukup wajar sih, mengingat waktu itu kekalahan yang diderita tim kesayangan Om Bodong cukup parah , 5-1!! Aneh memang, namun sekali lagi, memang begitulah cinta.

Padahal jika kita tela’ah lebih lanjut lagi, bahkan mungkin manajemen tim itu sendiri tidak mengetahui sedikitpun tentang keberadaan kita (para penggemarnya) di sini. Bahkan mungkin kita (sebagai penggemarnya) tidak tahu sama sekali tentang keadaan di sana. Bagaimana perangai direkturnya. Bagaimana keadaan kantornya. Bagaimana pula makanan yang disediakan saat latihan. Apakah Hamburger, atau Hot Dog, atau Pizza, atau malah nasi kuning? (sindrome nulis sambil kelaparan) Kita sama sekali tidak ada ikatan dengan mereka. Namun sekali lagi, mengapa hal itu bisa terjadi? Yuk kita tela’ah dari kacamata Om Bodong, sebuah pandangan yang tidak cerah namun mencoba mencerahkan, hehe…

Mari kita ajukan sebuah pertanyaan dasar yang paling dasar, sedasar-dasarnya. Sebenarnya, perasaan apa yang mendera masyarakat maniak sepak bola? Apakah cinta? Ataukah nafsu? Bagi Om Bodong sih jawabannya jelas, karena fanatisme. Lalu apa itu fanatisme?

Bagi Om Bodong, fanatisme adalah sebuah perasaan yang sangat kuat, di mana perasaan itu akan secara otomatis memaksa kita untuk mencintai, mengidolakan, dan menikmati setiap kesuksesan objek itu. Itulah perasaan fanatisme!

Lalu wajarkah perasaan seperti itu? Hmm, tunggu dulu, wajar atau tidak?? Hei, jika kita bicara soal wajar, itu artinya kita berada dalam ranah logika. Padahal, menurut perhitungan Om Bodong, fanatisme berada di dalam ranah emosi.

Jadi fanatisme = emosi, dan semua yang kita pikirkan di sini sekarang = logika. Pertanyaan yang lebih dalam akan kita ajukan sekarang, yaitu bisakah emosi dilogikakan?? Bagi Om Bodong, jawabannya is a big NO! Yap, yang namanya emosi tidak akan bisa dilogikakan. Logika memiliki dunianya sendiri, dan begitu pun emosi. Jadi, hanyalah sesuatu yag menghabiskan waktu jika kita terus membahasnya. Logika tidak sama dengan emosi. Dan keduanya tidak bisa dilakukan dalam satu main frame, yang bisa adalah, salah satu mendukung yang lainnya. Namun tetap ada kekuata yang utama. Yah, itu menurut Om Bodong sih. Masdab dan Mbakyu sekalian tentunya bebas berpendapat, dan tidak ada larangan untuk itu. Pokoknya, bagi Om Bodong, perasaan fanatis yang ada di dalam masyarakat Indonesia adalah sesuatu yang abstrak secara logika, namun real secara emosi. Kta tak bisa menjelaskan mengapa fanatisme itu bisa timbul. Dan kita memang tidak perlu mempermasalahkannya. Karena jika kita sudah mulai mempermasalahkannya, itu artinya kita sudah memasukkan unsur logika ke dalam ranah emosi.

Jadi? Biarkan fanatisme itu ada. Jangan hina apalagi halangi, namun cukup bersama mengendalikannya. Agar Fanatisme itu tidak menimbulkan kekerasan-kekerasan yang tidak perlu.

Yap, dari kawasan karanggayam, Om Bodong cabut!! (Sok-sokan niru gaya penyiar radio, kena sindrome radio gara-gara lagi magang di radio neh, hehe.)

O iyaw, mumpung masih ingat, Om Bodong ingin mengucapkan selamat untuk Barcelona! Tapi tahun depan, anda tidak akan seberuntung ini, kawan! Good bye 2010-2011, lets prepare to 2011-2012.

One thought on “LDF (Long Distance Fanatism)

  1. Ping-balik: Andai Gue Jadi Orang Kaya | Kacamata Om Bodong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s