Perumpamaan Cinta

Cinta itu emang gag ada matinya. Sekarang ini jangankan orang seumuran gue, anak kecil aja udah pada ngomongin cinta. Sampai-sampai ada anak SD yang mau bunuh diri gara-gara ditolak cintanya. Aduh dek, lu itu baru ditolak cintanya, belum diselingkuhin. Padahal kalau diselingkuhin lebih sakit loh! Iya, diselingkuhin itu lebih sakit. Gue pernah ngalamin dua-duanya jadi bisa bandingin. Iya, gue emang hina banget. Gag usah diperjelas sih…

Karena itulah, gue mau ngomongin soal cinta sekarang. Supaya kita bisa memilah-milah, mana cinta yang cocok berdasarkan muka. Seperti di film-film dan FTV, kalau mukanya cakep pasti kisah cintanya susah, sedang kalau mukanya pas-pasan pasti kisah cintanya lumayan aja. Nah kalau muka jelek kayag gue gini? Ya kisah cintanya kayag turun dari langit gitu, cepet banget. Itu kalo di FTV. Mungkin berdasar logika itu juga, kemudian pemeran utama di FTV selalu cakep. Oke, kita gag ngomongin FTV.

Jadi menurut gue, ada banyak perumpamaan cinta yang bisa kita gunakan untuk menggambarkan kisah cinta itu seperti apa.

Yang pertama, cinta itu seperti ngupil. Lu tahu orang ngupil? Kenapa dia ngupil? Iya, karena dia penasaran. Orang ngupil itu berawal dari rasa penasaran sama benda aneh yang mengganjal di hidung. Kadang sampai bunyi-bunyi juga kalau bernafas. Lalu mulailah si kelingking atau telunjuk beraksi. Korek sana, korek sini. Hingga akhirnya ketemulah upil busuk laknat dan terkutuk itu.

Kadang seperti itulah cinta berawal.

Kita mulai dengan rasa penasaran sama orang lain. Rasa penasaran itu datang perlahan, hingga kemudian seperti upil yang mengganjal di hidung saat bernafas, rasa penasaran itu mengganggu hati kita. Saat itulah kemudian kita memulai proses percintaan. Proses cinta kita adalah seperti proses korek-korek tadi. Dan saat menemukannya, apa yang kita lakukan?

Kita buang.

Iya, kita buang cinta itu, karena rasa penasaran sudah tidak ada lagi di hati kita. Kita biarkan si upil melayang ke sana kemari, di makan anak kecil yang lagi lewat, atau bahkan dijadikan bumbu masakan. (ini jijik sumpah) Kita tak peduli lagi pada upil itu.

Itulah cinta yang berawal dari rasa penasaran. Saat rasa penasarannya hilang, cintanya langsung dibuang ke sembarang tempat. Maksudnya benar-benar tempat yang sembarangan. Gak dilihat lagi jatuhnya di mana. Pokoknya sembarangan.

Ada juga perumpamaan cinta yang lain. Cinta itu seperti…

Emm gag tau, belum kepikiran lagi. Besok aja deh kalo gue inget, gue posting lagi. *dan kemudian dibuang ke laut sama warga kampung*

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s